Rabu, 29 Februari 2012

Senin, 27 Februari 2012

Sejarah PERSIB


Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Indische Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.
Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (Persebaya), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetbal Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.
Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan di pinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.
Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.
Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah sekretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R.Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal tangguh, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Adjat Sudradjat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nuralim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib. (sumber: www.simamaung.com)

Galeri PERSIB





Aliyudin Tak Dapat Ijin Bertanding

Dikabarkan dari Jayapura, beberapa pemain termasuk manajer tim mengalami demam menjelang pertandingan melawan Persipura Jayapura hari ini. Akibatnya, Aliyudin tidak mendapatkan ijin dari dokter tim untuk merumput.
Dokter tim Persib, Rafi Ghani menyampaikan bahwa tadi malam Aliyudin mengeluhkan terserang demam panas disertai batuk dan sakit kepala. “Maka untuk kesehatannya, saya menganjurkan kepadanya untuk tidak dulu bertanding melawan Persipura hari ini,” ujar Rafi Ghani melalui sambungan kepada Simamaung.
Karena demam pula, pada tanggal 26 Februari kemarin pemain belakang Wildansyah bersama manajer tim Umuh Muhtar didampingi seorang official, Pipin terpaksa harus pulang ke Bandung.
Menurut dokter Rafi, banyak yang bisa menjadi penyebab pemain mengalami sakit. Salah satunya adalah kondisi cuaca. Dari suhu panas di Jayapura lalu perubahan ke suhu dingin di Wamena dalam keadaan fisik yang lelah akibat perjalanan panjang dapat membuat tubuh menjadi rentan terserang demam.
Dengan demikian maka ketika menghadapi Persipura beberapa jam lagi, Persib tidak akan diperkuat Moses (akumulasi kartu), Wildansyah dan Aliyudin (demam). Sedangkan, kata dokter kemudian, Jendri Pitoy dan Miljan Radovic yang sempat mengalami memar sewaktu melawan Persiwa Wamena dipastikan sudah mendapat ijin untuk bertanding.
Setelah bertanding sore ini di Jayapura, Persib rencananya akan pulang kembali ke Bandung pada pukul 8 besok pagi dan kemungkinan sampai di kota kembang pada sore atau malam harinya. (sumber: www.simamaung.com )

Percaya Diri, Kunci Persib Lawan Persipura

“Memang Persipura Jayapura tim yang harus diakui kesolidannya. Imbang juga saya rasa bagus untuk Persib,” tuturnya saat dihubungi INILAH.COM lewat telepon selulernya, Minggu (26/2/2012).

Dia mengatakan untuk meladeni tim yang dijuluki Mutiara Hitam itu, Maung Bandung harus bertahan dimenit-menit pertama. “Bertahan saja dulu, lanjut itu serang balik dengan cepat,” ucapnya.

Asep mengatakan, selain dari segi teknik, kesiapan mental sangatlah diperlukan. Mengingat kekalahan kemarin dirasa bisa mengendurkan semangat para pemain. Dengan mental yang baik sudah tentu kualitas permainan pun akan baik.

“Terutama mental harus digembleng lagi. Rasa percaya diri dan semangat yang tinggi akan mempengaruhi kualitas permainan," ucapnya. (sumber: www.inilahjabar.com )

Tony: Ditempatkan Dimanapun Saya Siap!

Pemain serba bisa Persib Bandung, Tony Sucipto bereaksi santai atas pemberitaan yang menyatakan dirinya akan diproyeksikan sebagai pengganti Maman Abdurahman sebagai bek tengah. Pada dasarnya, bekas pemain Sriwijaya FC ini menyatakan kesiapannya ditempatkan di posisi manapun.
Kendati berita mengenai kemungkinan dirinya akan diplot untuk menggantikan peran Maman di lini pertahanan, Tony mengaku belum mendapat kepastian dari coach Drago Mamic mengenai hal itu. Tony yakin pelatih memiliki pertimbangan matang untuk menempatkan pemain yang paling cocok di posisi itu.
“Belum, belum tau. Sampai saat ini belum tau. Karena sampai saat ini masih latihan biasa. Pas hari H-nya baru, siapa yang paling siap dia yang main di posisi itu. Ya kalau dipilih saya ga ada masalah,” ujar Tony.
Pemilik nomor punggung 16 ini mengaku tidak bermasalah ditempatkan di posisi manapun. Terlebih Tony pernah memiliki pengalaman berperan sebagai bek tengah ketika berkostum tim nasional Indonesia.
“Ya ga ada masalah sih, main di lini belakang. Lini belakang, tengah, depan ga ada masalah buat saya. Sebelumnya juga pernah jadi bek tengah. Ditempatkan dimanapun saya siap!” tegas pemain yang baru menginjak usia 26 tahun pada 12 Februari kemarin. (sumber: www.simamaung.com)

Tv Online